RSS

Sultan Thaha Syaifuddin, seorang pahlawan Nasional yang lahir

11 Jul
Sultan Thaha Syaifuddin, seorang pahlawan Nasional yang lahir di Jambi pada tahun 1816 di lingkungan istana Tanah Pilih Kampung Gedang kerajaan Jambi. Merupakan sosok yang tak pernah gentar dalam membela tanah air. Secara tegas dan berani beliau menyatakan penolakan terhadap kekuasaan pemerintah Belanda. Semenjak kecil, bocah kecil bernama Taha Saifuddin memang sudah memiliki keistemewaan dalam dirinya. Tanda-tanda itu tampak pada kecerdasan dan ketangkasan yang kerap terlihat saat dia bermain dengan teman sebayanya. Bakat alam luar biasa itu sudah dimilikinya sejak dia lahir dari rahim sang ibu yang kala itu menjadi permaisuri di kerajaan jambi. Taha  Saifudin adalah anak Sultan Fachruddin, sultan pertama yang memerintah jambi sekitar awal abad ke-19 lalu.
Sang bocah selalu berani dan pandai bergaul dengan siapa saja tak ada batasan yang dia lakukan kepada teman-temannya yang sama-sama keturunan bangsawan, atau dengan anak-anak para hulubalang yang menetap di perkampungan, Taha Saifuddin tak pernah sama sekali membedakan mereka. Berani karena benar dan takut akibat perbuatanya yang salah,begitu prinsip hidup yang dia jalankan. Sikap baik ini sangat kuat tertanam dalam dirinya. Sikap itu pula yang pada akhirnya membentuk pribadi sang putra mahkota sampai kelak dewasa dan mampu memimpin kerajaan islam di jambi secara manusiawi.
Dia lindungi rakyat dari penindasan dan kesulitan hidup. Dia perangi kezaliman dan angkara murka kaum penjajah tanpa jera sampai mati tak ada sedikit pun kata kompromi yang dia kabulkan. Jika dalam kenyataan hal itu merugikan dan membuat sengsara kehidupan rakyat jambi. Bocah Taha Saifuddin memang tak pernah lepas dari paham-paham kejujuran dan kebenaran. Dia pun tak menyukai keangkuhan dan ketamakan. Taha biasa dididik ayahnya dengan ajaran budi pekerti yang luhur serta ajaran agama islam yang kuat. Bahkan, pelajaran ilmu ketauhidan telah lama meresap secara baik di dalam jiwanya sejak usia lima tahun. Sang putra mahkota jambi percaya benar, tak ada kekuasaan yang paling besar dan kekal di dunia ini selain kekuasaan Allah swt. Dan, dari dasar keyakinan yang ditumbuhkan sang ayah itu, bocah cilik ini akhirnya mampu berkembang sebagai anak yang luar biasa, berani, dan ulet dalam segala pekerjaan, termasuk dalam cara mengungkapkan pendapat pribadinya.
Di masa putra mahkota ini hidup, jambi telah memiliki sejarah perjuangan yang cukup lama. Pada awal abad ke-19 atau pada saat dia dilahirkan tahun 1816, pemerintahan kerajaan yang ditampuk oleh sang ayah ini sudah bercorak islam. Corak lama yang menganut unsur Hindu-Buddha telah ditinggalkan. Sejak awal abad ke-19 itu pula, sisa kejayaan Sriwijaya dan Singasari maupun Majapahit yang pernah mampir di jambi sebelumnya telah berubah total. Bentuk kerajaan pun diubah menjadi kesultanan. Dan, Sultan Fachruddin, ayah sultan taha yang pemerintahannya selalu di bawah tekanan Belanda, menjadi sultan Jambi pertama yang beragama islam.
“Anakku, terimalah lambang kerajaan berupa pusaka keris Siginje ini. Kelak, dia akan mendampingimu dalam memerintah jambi secara lebih baik lagi daripada pemerintahanku sekarang. Bawalah serta keris ini sebagai tanda bukti ikatan antara sultan dan rakyatnya. Perangilah terus penjajah Belanda agar segera menyingkir dari bumi jambi kita ini. Sabda ini suatu hari diucapkan Sultan Fachruddin di istananya kepada sang putra mahkota. Baginda yang sudah cukup tua ini merasa ajalnya sudah dekat. Dalam usia senjanya itu tampuk pemerintahan pun sementara dititipkan kepada adik Baginda bernama Sultan Abdurachman. Sedangkan, Sultan Taha sendiri karena masih muda dan baru berusia 25 tahun, diserahi tugas sebagai perdana menterinya.
Sikap baginda ini sangat membuat iri adiknya yang lain, yaitu Sultan Nachruddin dan para anak keturunannya. Sebab, mereka merasa punya hak yang sama pula untuk memerintah jambi, namun mereka tak kuasa. Lambang kesultanan berupa “keris siginje” yang menjadi syarat mutlak dalam memerintah kerajaan telah dimiliki Sultan Taha sehinggga secara resmi rakyat jambi tak mendukung atau mengakui keberadaan Sultan Nachruddin. Sedangkan, pemerintahan Sultan Abdurachman pun sifatnya hanya sementara. Setelah lambang kebesaran atau kekuasaan raja itu dilimpahkan kepada Sultan Taha, Baginda Sultan Fachruddin wafat dengan tenang. Baginda meninggalkan sejumlah tugas yang harus bisa diselesaikan oleh adik dan putra satu-satunya ini. Kala itu, kesultanan jambi tengah menghadapi posisi sulit.
2.1 Perjuangan Sultan Thaha Saifuddin Melawan Belanda.
Belanda sebelumnya telah berhasil menekan sang Sultan untuk menandatangani surat perjanjian yang isinya harus mengakui hak serta kekuasaan penjajah dalam perdagangan di wilayah jambi. Tindakan yang merugikan jambi ini memang tak kuasa ditolak oleh Sultan Fachruddin kala masih hidup. Karenanya sebagai penerus pemerintahannya, Sultan Taha menghadapi tugas mahaberat. Jiwanya yang penuh diliputi ilmu ketauhidan terus berontak melihat sikap belanda dan VOC yang akan mengambil kekuasaan penuh yang ditinggalkan ayahandanya. Dia ingin agar jambi dapat kembali menjadi kesultanan yang berdaulat penuh atas rakyatnya. Maka untuk memulihkan kondisi semula, tindakan pertama yang akan dilakukannya itu suatu ketika diungkapkan kepada sang paman, Sultan Abdurachman.
“Paman Sultan, aku sama sekali tak dapat menerima tindakan belanda ini. Aku tak suka bila jambi terjual begitu saja kepada kekuatan asing. Sanggupkah kita melawan mereka sekarang paman?”. “Benar, Ananda Pangeran. Jika dengan perlawanan senjata dan pengerahan rakyat ke medan tempur, sudah tentu tak mungkin kita dapat mengimbangi kekuatan Belanda. Untuk itu, kita harus mencari cara yang praktis. Nah, bagaimana jika kita mengadakan hubungan dengan bangsa Amerika? Sebentar lagi kaum pedagang asing itu akan datang ke jambi untuk mencari rempah-rempah”. Tepat sekali saran paman. Dengan pegabungan dua kekuatan nantinya, sekaligus aku akan mengeluarkan pula maklumat untuk tak mengakui perjanjian lama yang pernah ditandatangani oleh ayahanda dahulu. Bergegaslah, Paman. Sebab, menurut kabar di palembang pun pihak sultan setempat tengah memberontak pula melawan Belanda. Ini kesempatan bagi jambi untuk mengacaukan mereka.”
Menjelang perlawanan besar itu tiba, pihak jambi dan Belanda tiba-tiba serentak dibuat kaget. Sultan merasa kaget karena para pedagang Amerika yang akan siap membantunya telah ditangkap Belanda sebelum mengadakan aksi penyerangan. Rahasia ini bocor akibat laporan dari sultan Nachruddin yang merasa iri dan ingin memencing di air keruh. Adik nomor dua sultan pertama Jambi ini berharap, dengan jasanya itu kelak dia pun akan diangkat menjadi sultan pula oleh Belanda. Di sisi lain, Belanda ternyata lebih kaget lagi. Pasalnya, bangsa penjajah ini tak menduga bahwa di samping perlawanan besar. Sultan Taha yang memimpin pasukan Jambi menyodorkan pula maklumatnya. Sultan Taha menghapus perjanjian lama, dan isi maklumat yang dibuatnya sama sekali tak mengakui hak-hak belanda atas Jambi. Belanda lalu membujuk sang Sultan untuk memperbaharui saja isi perjanjian lama. Namun, harapan Belanda ini ditolak mentah-mentah. Akhirnya, pertempuran besar pun berlangsung dengan kekalahan di pihak Belanda.
Namun, meskipun Jambi berhasil memperoleh kemenangan besar, hati Sultan sangat sedih. Pamannya, sultan Abdurachman, tewas. Sementara pamannya yang lain, yaitu paman sultan Nachruddin, kini berada di pihak Belanda dan secara tak langsung tuk mengakui pula Sultan Taha sebagai Sultan Jambi ke-3. Kemenangan ini sekaligus telah memecah dua bagian isi kesultanan Jambi. Namun, Sultan Taha terus memimpin rakyat. Kebencian terhadap pamannya yang berkhianat itu justru membuat dia lebih dekat lagi mengikis habis bentuk penindasan serta penjajahan di bumi Jambi.
Akhirnya, Sultan Taha berhasil melaksanakan niatnya. Dia memimpin pemerintahan baru dengan bekal pusaka Keris Siginje. Sebagai tanda kebesaran kesultanannya. Sultan Nachruddin pun diusir. Dia di nobatkan sebagai Sultan Jambi III dengan gelar Pangeran Jayaningrat. Pemerintahannya yang sah dan kini menghadapi perlawanan segitiga itu, dibantu oleh anak Sultan Abdurachman yang juga adik sepupunya bernama Raden Muhammad, yang kemudian bergelar Pangeran Kartadiningrat. Sementara itu, pihak Belanda menyusun kembali kekuatan baru. Bala bantuan yang akan dipakai menebus kekalahan perangnya dengan kesultanan Jambi cepat didatangkan dari Palembang. Dibantu Sultan Nachruddin yang telah menjadi antek sekutunya, kemudian terjadilah perang kedua. Istana kesultanan diserang dan dihancurkan, Sultan Taha terpaksa meninggalkan istananya yang porak-poranda. Dia pergi mengungsi ke wilayah Muara Tembesi.
Bersama sisa-sisa pengikut setianya, dia lalu melancarkan perang gerilya. Sultan Nachruddin resmi diangkat Belanda sebagai sultan baru  yang ke-4. Tetapi, rakyat Jambi tetap tak mau mengakuinya. Pusaka keris Sigenje yang dipakai sebagai bukti kekuasaan raja masih ada di tangan Sultan Taha. Untuk itu, sekalipun Belanda memberlakukan pasal perjanjian baru yang lebih merugikan serta hanya menguntungkan pihak VOC, pihak rakyat jambi tetap memihak kepada Sultan Taha. Untung saja menyadari posisinya yang sangat kurang menguntungkan karena di satu sisi sebagai sultan baru dia tak diakui kedaulatannya oleh rakyat, sementara di pihak lain Belanda pun mengadakan penekanan terhadapnya, akhirnya dengan sisa-sisa semangat nasionalismenya Sultan Nachruddin kembali berbelok arah. Secara diam-diam, dia pun menyatakan bersalah kepada keponakannya di tempat pengungsian. Pernyataan yang disampaikan secara langsung diterima dengan gembira oleh Sultan Taha.
Kemudian, dengan diam-diam pula tanpa diketahui Belanda, sang sultan gadungan Nachruddin segera memindahkan pusat pemerintahannya dari Jambi ke suatu wilayah bernama Dusun Tengah, yang lokasinya sekarang berdekatan sekali dengan Muara Tembesi yang kala itu menjadi pusat kegiatan gerilya Sultan Taha. Pihak Belanda pun berhasil dikecoh sampai waktu yang cukup lama oleh kedua paman dan keponakan yang sama-sama bertekad untuk bersatu padu kembali membela tanah jambi itu. Perlawanan demi perlawanan pun terus digencarkan sampai batas waktu yang tak terhingga. Dikabarkan, pihak jambi tetap berada di bawah kendali Sultan Taha dalam posisi gerilyanya hingga mencapai usia 85 tahun dan tetep tak mengakui kehadiran Belanda maupun organisasi dagangnya, VOC.
Waktu itu pasukan Sultan Taha dan Sultan Nachruddin terus mengadakan perlawanan. Pertempuran kerap berlangsung dari waktu ke waktu di seluruh wilayah jambi. Mulai dari wilayah Sarolangun Rawas, Muaro Tembesi, Muaro Tebo, Mesumai, Merangin, hingga ke Kuala Tungkal, perlawanan rakyat Jambi terus bergolak. Sultan Taha sendiri tak mempunyai pikiran untuk menyerah sekalipun perlawanan yang ditunjukannya lama-kelamaan semakin parah. Tetapi bagaimanapun, semangat perjuangan rakyat jambi yang tak didukung oleh persenjataan besar sebagaimana perlawanan pihak kerajaan pribumi di wilayah Indonesia lainnya itu tetap berhasil mematahkan maklumat keji yang di buat Belanda. Kala itu, Belanda telah sempat memperluas kekuasaannya dengan kisah perjuangan yang cukup itu. Akhirnya sang sultan mengasingkan diri di sebuah daerah Tebo, sampai beliau menghembuskan nafas terakhirnya sebagai pahlawan yang tak pernah lelah mengusir penjajah dari tanah jambi. Bahkan pemerintah pun tak pernah menghapus nama besarnya dan bumi Jambi. Dan, sebagai tanda penghormatan dari pemerintah, kini nama Sultan Taha tersebut terukir abadi sebagai nama bandar udara dan salah satu perguruan tinggi di provinsi tersebut.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Juli 2013 in Sejarah Jambi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: